Peran Penting dan Strategis Lemhannas RI

Pada 21 Februari 2022 Presiden Joko Widodo melantik Dr Andi Widjajanto sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia.

Sejarah pendirian Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia berawal dari surat Jenderal AH Nasution kepada Menteri Pertama Ir Juanda tentang perlunya lembaga ketahanan nasional. Surat Keputusan Menteri Pertama Nomor 149/MP/1962 tanggal 6 Desember mengamanatkan untuk segera membentuk panitia interdepartemental yang bertugas mempersiapkan pembentukan lembaga pertahanan nasional.

Panitia interdepartemental dilantik pada 13 Desember 1962 menandakan wadah Lembaga Ketahanan Nasional resmi berdiri. Panitia beranggotakan 16 orang dipimpin Letnan Jenderal R Hidayat bertugas mempersiapkan lembaga pendidikan tinggi pertahanan untuk membentuk dan mengembangkan tenaga pembina baik sipil maupun militer pada tingkat politik strategi dan pertahanan nasional.

Panitia interdepartemental mengadakan rapat untuk merumuskan pembentukan, fungsi, dan tugas Lemhannas. Pada rapat 12 Januari 1963 Letnan Jenderal R Hidayat memberikan petunjuk untuk merumuskan penggunaan istilah “pertahanan”, bentuk kegiatan lembaga, dan falsafah yang melandasi kegiatan Lemhannas. Pada 7 Maret 1963 rumusan diserahkan kepada Ir Juanda yang ditindaklanjuti dengan pembentukan staf pelaksanaan berikut petunjuk pelaksanaan pendirian Lemhannas dengan Mayor Jenderal Wiluyo Puspoyudo sebagai ketua. Berdasarkan Surat Keputusan Nomor III/E/77/1964 tanggal 20 Juli 1964 direncanakan peresmian Lemhannas dikaitkan dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November 1964, namun rencana tersebut mundur.

Melalui proses waktu, pemikiran, dan konsepsi yang panjang dan berliku, akhirnya Lemhannas diresmikan pada 20 Mei 1965, bertepatan dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional. “Pertahanan nasional” kala itu bermakna ketahanan bangsa yang sedang berevolusi. Presiden Soekarno meresmikan Lemhannas dengan Mayor Jenderal Wiluyo Puspoyudo sebagai Gubernur Lemhannas pertama.

Lemhannas dicita-citakan sebagai institusi yang berorientasi pada pencapaian tujuan nasional Indonesia. Lembaga ini dirancang dan dipersiapkan sebagai pusat pendidikan dan pengkajian masalah strategis berkaitan dengan pertahanan negara dalam arti luas, termasuk pengendalian keutuhan bangsa. Terlihat betapa penting dan strategis keberadaan Lemhannas.

Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 7 Tahun 1974 tanggal 18 Februari 1974, Lemhannas ditetapkan berkedudukan sebagai salah satu badan pelaksana Departemen Pertahanan dan Keamanan yang membantu Menhankam/Pangab mencapai, mempertinggi, dan memelihara ketahanan nasional dengan membina terwujudnya integrasi dan kerja sama dalam pengerahan dan penggunaan segenap unsur kekuatan dan potensi nasional. Ketentuan itu memberikan landasan dan pedoman organisasi serta tata kerja Lemhannas dalam pembinaan dan pengkajian secara utuh segenap unsur kekuatan dan potensi untuk memelihara dan meningkatkan ketahanan nasional. Sebagai lembaga pengkajian dan pendidikan nasional, Lemhannas juga menyelenggarakan pendidikan dan pengkajian berdasarkan konsepsi ketahanan nasional.

Setelah era reformasi, pemerintah melakukan berbagai perubahan sesuai tuntutan reformasi, antara lain perubahan Departemen Pertahanan dan Keamanan menjadi Departemen Pertahanan Republik Indonesia, sedangkan Mabes ABRI berubah menjadi Mabes TNI. Berdasarkan perubahan ini, Lemhannas berada di bawah Dephan RI, namun struktur organisasi tidak berubah. Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Lemhannas diharapkan menjadi lembaga kelas dunia. Harapan itu disambut dengan semangat tinggi oleh Gubernur Lemhanas Prof Dr Muladi SH yang siap merealisasikannya.

Dengan  paradigma baru Lemhannas melakukan restrukturisasi dan revitalisasi untuk menjadi lembaga prestisius dan berkelas dunia. Dirumuskan visi dan misi baru menuju lembaga yang sekelas dengan lembaga-lembaga sejenis di dunia. Perubahan juga terjadi dalam tugas dan fungsi yang bertambah. Pemantapan nilai-nilai kebangsaan dan fungsi kerja sama diperluas. Dibentuk pula Dewan Pengarah sebagai Policy Making Body untuk membantu Gubernur Lemhannas dalam mengendalikan kegiatan operasional. Berdasarkan Perpres Nomor 67 Tahun 2006 kedudukan Gubernur Lemhannas setingkat menteri.

Pada 2010 kegiatan pendidikan dan hasil kajian Lemhannas ditargetkan menjadi rujukan nasional. Kemudian pada 2015 menjadi rujukan regional ASEAN dan pada 2020 menjadi rujukan regional Asia Pasifik. Ditargetkan 2025 merupakan langkah panjang menuju pencapaian akhir menjadi rujukan dunia, sehingga diperlukan langkah strategis dan kerja keras segenap jajaran. Untuk mencapai tujuan itu Lemhannas merumuskan 11 Prinsip Pembaharuan, Revitalisasi dan Restrukturisasi Organisasi, Reformasi Birokrasi, Strengthening the Capacity Building, dan Lemhannas Social Network.

Pada 21 Februari 2022 Presiden Joko Widodo resmi melantik Dr Andi Widjajanto sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia. Kehadiran Lemhannas diharapkan tidak hanya dirasakan di ruang-ruang kelas, tetapi juga seluruh kegiatan sehari-hari masyarakat Indonesia. Harus lebih sering menyentuh kegiatan masyarakat dan dirasakan langsung oleh masyarakat di seluruh wilayah.

Penunjukan Andi Widjajanto sebagai Gubernur Lemhannas diyakini akan memperkuat analisis sipil dalam ketahanan nasional. Sebab, Lemhannas memerlukan seorang pemimpin yang relatif muda agar mampu menggodok pemikiran dan analisa-analisa yang berpikir jauh ke depan.Selain itu, berbeda dari pendahulunya yang rata rata dari TNI maupun Polri, Andi Widjajanto dapat menjadi kekuatan analisa sipil yang mampu keluar pakem-pakem ketahanan tradisional.

Andi Widjajanto juga punya kedekatan komunikasi yang cukup baik dengan Presiden. Ini merupakan modal penting agar kajian masukan dan analisa dari Lemhannas betul-betul dapat menjadi masukan bagi Presiden dalam mencermati ketahanan nasional. Dengan gubernur baru diharapkan dapat memberikan masukan yang tepat kepada Presiden sesuai keberadaan dan fungsi Lemhannas. Di era kepemimpinan Andi Widjajanto, Lemhannas diharapkan memberikan cara pandang baru terkait ketahanan nasional. Kajian-kajian Lemhannas ke depan diharapkan benar-benar menjawab masalah ketahanan yang kekinian, tidak usang, dan terbarukan.

***

Tinggalkan komentar