Wawancara Radio Elshinta : Aktivitas Intelijen di Era 5.0

Aktivitas intelijen
Aktivitas intelijen

Wawancara dengan pengamat intelijen Ridlwan Habib

Bagaimana Anda mencermati pro – kontra reaksi pernyataan bahwa BIN masuk menyusup ke Taliban?

Sebelumnya perlu dipahami dulu bahwa kegiatan intelijen itu bisa didefinisikan sebagai aktivitas organisasi maupun skill atau ilmu pengetahuan. Nah, yang disampaikan Mas Wawan itu (Deputi VII BIN Wawan Hari Putranto) bukan dalam konteks aktivitas. Karena masalah tidak secara detail. Kalau saya baca klarifikasi beliau dalam beberapa media, yang dimaksud dengan mengirimkan atau menyusup itu adalah membangun jejaring komunikasi. Jadi, beliau tidak menjelaskan secara detail teknisnya, rinciannnya, apakah itu transport, apakah itu perorangan, apakah agen lepas, dan sebagainya itu tidak dijelaskan. Yang penting, dia mengatakan ada komunikasi dengan kelompok Taliban. Ini saya kira masih dalam  taraf wajar. Yang membahayakan adalah real activity, apalagi pre-activity. Itu bahaya sekali. Maksudnya menjelaskan apa yang akan dilakukan. Itu tidak boleh. Kecuali kalau sudah terjadi dan biasanya menganut masa retensi. Masa retensi atau masa delay di Indonesia sekitar 20 tahun.

Jadi misalnya menjelaskan operasi intelijen tahun 1995, sudah lebih dari 20 tahun, itu boleh-boleh saja. Tapi kalau yang sedang dilakukan atau akan dilakukan, dalam undang-undang kita UU 17 Tahun 2011, itu jelas nggak boleh.

Itu hanya kiasan, ya? Kiasan supaya lebih memudahkan untuk dipahami masyarakat.

Ya narasi yang dibangun itu ingin menjaskan bahwa Taliban sebagai institusi bukan sesuatu yang sangat tertutup. Kita masih bisa menjalin komunikasi dengan mereka.

Bagaimana sebetulnya tata cara operasi intelijen yang dilakukan suatu negara di negara lain? Karena beberapa tahun lalu ada intelijen dari Rusia, kalau tidak salah, kemudian terungkap mereka melakukan kegiatan di Jakarta.

Definisi intelijen adalah kegiatan mengumpulkan data dan informasi untuk membuat prediksi dan perkiraan mengenai kejadian yang akan dihadapi pada masa depan. Itu prinsipnya. Jadi, kalau bicara intelijen jangan terbuai film-film seperti James Bond atau Mission Impossible.
Itu banyak bumbu-bumbunya. Sebenarnya kepentingan utama intelijen adalah proses mencari dan mengolah data dan informasi untuk dibreikan sebagai produk analisa kepada user untuk memprediksi masa depan. Misalnya bicara tentang Taliban, yang dilakukan intelijen adalah apakah kemenangan Taliban ini selama 5 atau 10 tahun ke depan berdampak pada aktivitas terorisme dan radikalisme di Indonesia. Atau yang paling dekat begini, apakah dengan kemenangan Taliban itu akan mempengaruhi Pilpres 2024 di Indonesia? Kalau iya, kenapa? Bagaimana, siapa, dan seterusnya. Itu yang kemudian dijelaskan oleh intelijen.

Jadi, sebenarnya tugas utama intelijen seperti itu. Jangan dibayangkan seperti Rambo yang masuk ke Taliban menggunakan senjata dan seterusnya. Ndak, ndak seperti itu. Walaupun ada dalam kasus-kasus tertentu, tactical intelligence dilakukan oleh intelijen kita. Dulu di era Pak LB Moerdani, beliau pernah mengirimkan senjata ke Afghanistan melalui perbatasan Pakistan.  Operasi khusus di era LB Moerdani, di zaman Pak Harto pernah dilakukan.

Sebenarnya ketika masyarakat beraksi beragam ada kekhawatiran terkait dengan operasi intelijen, itu kan berarti maindset-nya masih terpola dengan intelijen masa lalu.  Karena reaksinya yang berlebihan. Anda sebutkan intelijen basicnya adalah pengumpulan data dan informasi kemudian menganalisa sehingga bisa dijadikan rujukan prediksi kebijakan masa depan. Kira-kira begitu?

Ya benar. Kita masih terjebak pada propaganda atau paradigma intelijen klasik. Misalnya intelijen itu penjual nasi goreng yang keliling membawa HP, melakukan penculikan pakai jip gede gitu.

Hampir semua lembaga intelijen profesional di dunia, termasuk CIA, M16 di London, itu semua punya public relation officer.  Bahkan punya juru bicara. CIA punya juru bicara. ASIO di Australia juga punya.  Mereka bahkan punya website yang sangat menarik untuk dilihat orang umum di YouTube. Dikelola dengan sangat baik. Bahkan, CIA punya portal CIA for kids untuk anak-anak TK sehingga anak-anak di Amerika cita-citanya tidak hanya menjadi dokter, pilot, polisi, tetapi ingin jadi spy. I want to be CIA agent. Di Indonesia ini belum.

Di Indonesia, Deputi VII BIN bidang komunikasi baru diinisiasi pada zaman Pak Budi Gunawan dengan Perpres 2017 yang kemudian fungsinya sebagai Human Public Relations. Dan memang masyarakat cukup kaget. BIN kok punya akun Twitter, BIN punya YouTube, BIN kok ada juru bicaranya? Ya kita menghadapi situasi intelijen 4.0. Intelijen abad 22 yang memeang mensyaratkan sembunyi di tengah keterbukaan. Intelijen kita itu harus bisa memilah mana yang seolah-oleh itu pengalihan isu, mana yang seolah-olah tertutup tapi sebenarnya itu boleh dibuka. Lha ini seni tersendiri. Memang tugas berat untuk Deputi VII BIN Mas Wawan. Dulunya kan beliau cover-nya adalah pengamat intelijen kemudian baru ketika ada approve dibuka cover-nya beneran intelijen di Badan Intelijen Negara. Dan memang tugasnya masih panjang.

Jadi, tidak mengherankan kalau saat ini intelijen kita sangat terbuka?

Sebenarnya kita cukup terlambat. Saya parameternya intelijen profesional di dunia. Mossad misalnya punya website sangat bagus dan eduksinya keliling ke sekolah-sekolah, mengajarkan bagaimana mengidentifikasi serangan teroris. Itu keliling di SMA-SMA di Israel. Tentu tidak harus dibikin sama seperti itu. Tetapi di kita seolah-olah bicara intelijen merupakan hal yang tabu. Sesuatu yang misterius atau menyeramkan,.

Paradigma ini sebenarnya bisa diubah. Ketika kemudian menjadi lebih friendly.  Misalnya begini, intelijen bikin acara vaksinasi. BIN vaksinasi ke warga, ke sekolah. Lha itu kan ramai kritiknya. BIN kok menyuntik orang, BIN kok kelihatan, BIN kok kelihatan fotonya? Ini yang sebenarnya kita sebut intelijen 5.0. Itu adalah bagaimana institusi intelijen bisa secara unit bisa melayani masyarakat tanpa harus merefil semua aktivitas rahasianya. Bahwa aktivitas vaksinasi itu kan bukan sesuatu yang harus ditutup-tutupi. Tetapai proses intelijen yang menyamar di negara lain tidak dibuka. Kita kan tidak ada penjelasan berapa intel yang ada di Pakistan, di India. Itu kan nggak terdeteksi secara geraknya. Jadi, seni antara mana kerja terbuka, dan mana yang memang harus tertutup.

Biasanya yang tertutup itu seperti apa?

Nah, ini pertanyaannya menjebak. Ya mana saya tahu? Kan, tertutup. Haha.

Kan umumnya Anda mengatakan ada yang tertutup dan terbuka. Kalau terbuka itu data dan sebagainya. Nah, yang tertutup ini misalnya dalam operasi-operasi seperti apa?

Kalau dalam teorinya yang kita pelajari di buku, di kampus, itu kan mereka bekerja di luar negeri. Mereka ditempatkan di semua negara. Pemahaman saya, denger-denger sih begitu. Jadi, mereka bekerja secara normal sesuai dengan cover masing-masing. Ada yang jadi jurnalis, ada yang jadi pedagang, ada yang jadi diplomat, dengan cover masing-masing menjalankan tugasnya. Fungsi pokoknya apa? Ya itu tadi gathering information lalu diolah menjadi data. Data ini disajikan untuk prediksi bagi user. Nah, user BIN itu presiden only. Single user. Jadi, tergantung. Misalnya presiden ingin tahu kira-kira investasi di Arab Saudi 5 tahun ke depan bagaimana? Ya sudah nanti dari Pejaten akan telepon agen di Arab Saudi lalu mereka bikin analisa dengan data-data terbaru. Secara sederhananya seperti itu.

Saya bacakan beberapa tanggapan. Di antaranya Pak Herman: setuju kalau intelijen kita tetap tertutup, tidak terbuka seperti sekarang. Dari Pak Herlambang: Yang penting bagaimana kita bisa mengantisipasi aksi-aksi terorisme. Ini adalah peran penting dari intelijen, jangan kebobolan. Kemudian dari Pak Rahmat: Kita lihat saja bagaimana respons dari Taliban. Artinya, masih menganggap bahwa ini membahayakan untuk operasi intelijen. Kalau itu benar.

Kalau misalnya pun ada agen kita yang berada di Taliban itu tidak mudah. Pertama Taliban mensyaratkan keanggotaan murni dari Afghanistan saja. Yang paling memungkinkan adalah mungkin sebagai hambler atau communicator berperan di sana. Apakah dia menjadi orang Indonesia yang berbisnis dengan orang Afghan, atau orang Indonesia yang berbisnis di Pakistan, atau macam-macam cover yang bisa dilakukan. Yang jelas, hubungan dengan Taliban bisa dibuka. Artinya, misalnya sewaktu-waktu Presiden ingin telepon Mullah Baradar, BIN bisa mengatur itu. “Saya mau telepon Mullah Baradar dan tidak boleh ada yang tahu. Atur”. BIN bisa bisa mengatur Mullah Baradar telepon dengan Presiden Jokowi tanpa ada orang yang tahu. Itu salah satu tugas intelijen seperti itu.

Jadi memang fungsi BIN yang disebut bisa tertutup atau terbuka, tergantung prioritas  ya?

Ya mungkin Mas Wawan kemarin itu kan, ya kita memahami psikologis beliau. Forumnya di acara partai Gelora, ya mungkin tidak mengira akan secara terbuka disajikan ke publik yang mungkin ada Youtube juga. Nah, kemudian mungkin saja terbawa semangat bahwa “Oh, kita juga ada kok yang berkomunikasi di sana.” Mungkin seperti itu. Untuk lebih detailnya, tanya saja Mas Wawan.

Ya sayangnya telepon saya belum direspons Pak Wawan. Tapi, tantangan BIN di era 5.0 seperti apa? Selain lebih terbuka. Apakah harus meninggalkan ciri khas intelijen yang tertutup dalam operasinya?

Oh tidak boleh. Intelijen kredonya adalah kompartamentasi dan secrety. Dia adalah kerahasiaan dan sel terpisah. Jadi kalau misal Anda anggota intelijen, nggak akan tahu orang lain yang bertugas di deputi lain  atau kamar yang lain. Itu namanya kompartementasi.  Dan secrety itu hikmat, itu wajib. Hanya beberapa orang  tertentu  yang diizinkan membuka cover, seperti misalnya Mas Wawan,  Kemudian Bapak kepala, Wakil Kepala, itu wajar ya. Tapi  yang lain ya under cover. Sesuai protapnya. Perlu diingat bahwa semboyan adalah velog excatus. Pelog adalah cepat dan tepat. Jadi data itu tidak boleh lama-lama dipendam, harus secepatnya diolah dan disajikan. Karena kalau terlambat menjadi basi. Apalagi di era seperti sekarang. Suatu peristiwa yang terjadi jam 7 pagi, jam 9 itu netizen sudah tahu. Jadi nilai lebih intelijen itu harus lebih dalam itu yang disebut exatus. Jadi, analisanya itu cepat dan tepat.

Kalau seorang intelijen mencari data telat  itu sudah nggak velog. Apalagi datanya salah, kemudian pengolahan  analisanya salah. Nggak exactus. Sudah nggak velog ndak exactus. Nah ini memang beban berat, maka itu di kepemimpinan Pak Budi Gunawan memang penguatan di Sekolah Tinggi Intelijen Negara. Yang kemudian semboyannya world class intelligence itu kemudian digenjot, termasuk kurikulum, dosen-doesn yang lebih kapabel, peralatan, gadget, dan sebagainya yang baik.

Dalam beberapa kejadian, intelijen kita kerap kali dituding keboboban. Bagaimana ini bisa terjadi?

Kita bicara teori yang namanya intelligence failure atau kegagalan intelijen. Secara sederhana ada tiga. Pertama, kegagalan mendapatkan informasi. Kedua, kegagalan mengolah informasi. Ketiga, ketika informasi yang diolah tidak digunakan oleh pimpinan atau user. Nah,biasanya yang pertama dan kedua sudah dilakukan oleh jajaran intelijen. Datanya dapat, sudah diolah dengan baik, tetapi kadang-kadang – karena mekanisme kita kan agak rumit ya — belum ada yang kita sebut satu kamar bersama untuk komunikasi intelijen. Artinya, begini. Intelijen tentara, melalui BAIS melapor kepada Panglima TNI.  Sementara intelijen kepolisian melapor kepada Kapolri.  Sementara BIN melapor kepada presiden. Jadi, ada banyak kamar yang sama-sama intelijen, tetapi tidak menyatu. Mana yang duluan, mana yang harus segera dieksekusi, kita katakan saling apa ya, kalau bahasa kita, berkasnya numpuk-numpuk. Sehingga kadang-kadang berkas yang seharusnya dicek itu tertumpuk oleh berkas lain, yang kemudian sering disebut sebagai kebobolan. Intelijen itu kredonya nggak boleh membantah. Itu sudah kutukan profesi intelijen. Berani untuk tidak dikenal. Kalau gagal dicaci maki, berhasil tidak diakaui, mati tidak dicari. Itu salah satu kredo mereka. Jadi, ya ditelan saja kalau ada yang menganggap intelijen kebobolan.

Ada tanggapan lain dari Pak Dito yang berharap insan intelijen kita lebih tertutup.  Yang lain, betul tadi, mindset kita masih seperti dulu, menyeramkan. Sekarang agak berbeda ya?

Kalau kita lihat akun Twiter BIN Official itu adik-adik muda ya, yang bicara soal pacaran, bicara soal nasi goreng. Ya, kita harus hidup di zaman baru.  Ini kan ada adik-adik yang 1998-an waktu Pak Harto jatuh, belum lahir, masih dalam kandungan. Mereka dalam alam yang sangat berbeda dengan kita dulu, yang kemudian bukan lagi berpikir tentang kredo-kredo lama. Lalu bicara tentang hal-hal baru, misalnya tentang teknologi, tentang gadget, alat perekam, misalnya. Alat perekam dulu sangat ribet. Bentuknya besar, kemudian harus dibawa khusus. Pokoknya ribetlah. Sekarang bentuknya sangat sederhana, seperti cincin, atau kancing baju. Itu sudah bisa digunakan sebagi transmitter dengan jarak 500 sampai 1 kilometer. Itu luar biasa. Sangat berbeda dibandingkan dengan zaman dulu.

Secara teknologi lebih berkembang dibandingkan dengan dulu, tetapi orang banyak menyebut intelijen dulu lebih efektif karena mampu melakukan deteksi akan terjadinya teror. Apakah itu murni kerja intelijen atau ada faktor lain misalnya dukungan undang-undang yang memungkinkan intelijen malakukan pencegahan lebih dini?

Jangan lupa salah satu yang menentukan kerja intelijen adalah user-nya. Kalau mau dibandingkan dengan Orde Baru, user intelijen  adalah Pak Harto. Kita tahulah bagaimana Pak Harto menggunakan intelijen untuk mempertahankan kekuasaan selama 32 tahun. Beliau dengan Pak LB Moerdani, Ali Murtopo, para senor-senior itu, bisa membuat  situasi politik Indonesia “terkendali”.  Baru pada tahun 98, blerrr,  reformasi. Kemudian semua terbuka. Oh ternyata dulu pengendalian partai seperti ini. Oh ternyata dulu politik umat Islam dibelah bambu seperti ini. Baru tahu setelah reformasi.

Nah di era Pak Jokowi sebagai user, tentu berbeda. Ada demokratisasi, ada netizen watching, ada pemantauan dari netizen. Iklimnya jauh lebih terbuka, sehingga kemudian tantangan intelijen sangat jauh  berbeda. Ya, karakter usernya juga berbeda, kan. Pak Jokowi modelnya dialog, tidak suka macam-macam. Sementara dulu, Pak Harto tersenyum saja sudah menjadi kode. Kalau Pak Harto berdehem, itu artinya partai Islam harus ada satu, PPP kan. Itu dulu. Kalau hari ini, semua boleh mengkritik Presiden.  Semua boleh main di YouTube. Ustad-ustad juga gampang berdakwah. Ini berbeda banget iklimnya user di era Orde Baru dengan sekarang.

Kondisi ini juga dimanfaatkan kelompok-kelompok tertentu yang memang bertujuan melakukan aksi teror. Dengan kondisi itu, mereka menyusup ke beberapa kelompok. Dengan kondisi seperti itu, apa yang harus dilakukan intelijen agar bisa melakukan deteksi dini?

Ya, tantangannya harus diikuti. Secara sederhana kita harus memahami karakteristik lawan, melakukan identifikasi lawan. Lawannya bermain apa? Kalau lawannya bermain media sosial, Anda harus lebih jago bermain di media sosial. Lawannya bermain human intelligence, artinya penggalangan orang ke orang, jalan dari masjid ke masjid, gereje ke gereja, kampung ke kampung, maka intelijen juga harus jalan ke kampung-kampung.

Artinya, lawan harus dideteksi cara geraknya. Saya kira teman-teman intelijen, baik Densus 88 maupun BIN juga sudah melakukan itu semaksimal mungkin. Tentu ada satu-dua kasus yang mungkin tertinggal atau lawan tiba-tiba tertubruklah teknik secara mendadak itu wajar, terjadi di mana-mana. Namanya strategic supplay. Bahkan CIA pun tahun 2001 pernah kebobolan. Penyerangan gedung WTC. Itu sangat wajar dalam dunia intelijen. Cuma yang harus selalu dilakukan adalah langsung dievaluasi di mana kesalahannya.

Itu beberapa hal yang perlu dipahami masyarakat peran BIN dewasa ini lebih terbuka karena mengedukasi masyarakat dan peran masyarakat lebih banyak lagi dalam pencegahan. Begitu kira-kira ya?

Iya.

 

  • Telah tersiar di radio Elshinta pada 5 September 2021

Tinggalkan komentar