Kegagalan Operasi Intelijen

Dunia intelijen biasanya terkait dengan kecanggihan peralatan dan kecerdasan agen intelijen seperti seperti James Bond atau Ethan Hunt di Mission Imposible. Gambaran itu membentuk persepsi “wow” tentang intel, profesi intelijen, dan jaminan kesuksesan operasi intelijen.

Namun benarkah demikian? Ternyata salah besar jika memandang agen intelijen selalu sukses  dalam mengemban misi.

Tugas intelijen pada dasarnya mengumpulkan informasi, menyortir informasi, mengolah dan menganalisis informasi, lalu menyampaikan pada pengambil keputusan. Semua itu dilakukan dengan perencanaan matang sebelum melakukan operasi intelijen. Namun, jika data yang dikumpulkan tidak valid, apalagi salah analisis, maka gagallah operasi intelijen.

Tujuan utama aksi atau operasi intelijen adalah memastikan keamanan negara. Di era globalisasi ini konsep keamanan meluas ke isu terorisme, keamanan pangan, keamanan manusia, dan sebagainya. Tugas intelijen saat ini tidak hanya dari sisi militer, spionase, dan semacamnya. Tugas intelijen mengikuti perkembangan ancaman apa pun demi keamanan negara. Salah satu ancaman keamanan terkini yang melanda keamanan nasional di hampir seluruh negara di dunia adalah: pandemi virus Corona.

Yang aktual, kegagalan intelijen Amerika Serikat menghadapi ancaman virus Corona, salah satu ancaman keamanan nasional di hampir seluruh negara di dunia. AS yang merupakan salah satu negara dengan badan intelijen terbaik di dunia ternyata gagal mengantisipasi ancaman pandemi Corona. Dalam hal ini United States Intelligence Community atau lebih dikenal dengan IC.

Tugas IC yang terdiri atas 17 instansi independen adalah memberikan peringatan awal tentang potensi krisis kepada para pembuat kebijakan. Dalam konteks “serangan” Corona, Amerika Serikat pada April 2020, memimpin jumlah kasus infeksi virus Corona tertinggi di antara seluruh negara di dunia dengan 764.265 total kasus dan angka kematian mencapai 40.565 jiwa. Kenyataan itu mencuatkan skandal kegagalan besar intelijen IC dalam bekerja.

Itu bukan satu-satunya kegagalan intelijen AS. Yang paling tragis dan menjadi peristiwa besar dalam sejarah adalah runtuhnya World Trade Centre di New York pada 11 September 2001. Gedung kebanggaan dan simbol kemegahan negara adidaya itu hancur akibat serangan teroris kelompok al-Qaeda.

Contoh lain, kegagalan operasi intelijen. Misalnya operasi serangan militer pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat di Karbala, Irak, pada tahun 2003. Pasukan koalisi mengerahkan 31 helikopter AH-64 Apache. Ini merupakan helikopter tempur terbaik untuk segala kondisi cuaca yang dilengkapi sistem persenjataan dan sistem penjejak mutakhir. Seharusnya  helikopter ini dapat menyelesaikan tugas dengan sempurna. Namun saat melakukan misi di Karbala pada tahun 2003, data intelijen yang memperkirakan kekuatan musuh tidak jelas. Akibatnya fatal. Dua Apache ditembak jatuh dan 29 helikopter lainnya rusak parah.

Jadi akibat kegagalan operasi intelijen dampaknya akan sangat luar biasa. Karena itu, selain peralatan canggih dan mumpuni, kecerdasan agen intelijen menjadi sangat penting untuk mendapatkan data dan informasi yang valid untuk suksesnya operasi intelijen. [A1]

Tinggalkan komentar